PANGAN LOKAL : KEADAANMU SAAT INI

Gambar

www.spi.or.id/?p=4294

Masih teringat percakapan saya dengan seorang pedagang buah di pinggir jalan saat ingin membeli buah dari tokonya untuk dijadikan parsel. Ketika saya bertanya bahwa saya ingin membeli ukuran parsel yang kecil, sang pedagang buah menjawab bahwa saya tak dapat lagi untuk membeli yang ukuran kecil. Saya merasa heran karena sebelumnya saya sering membeli yang ukuran kecil dari tokonya kemudian saya bertanya mengapa saya tak dapat lagi membeli yang ukuran kecil. Pedagang tersebut menjawab  bahwa tak ada stok buah yang cocok untuk dijadikan parsel ukuran kecil. Saya semakin bingung, bagaimana itu dapat terjadi? Kembali saya mempertahankan keinginan saya untuk membeli parsel ukuran kecil di tokonya (karena tak ada toko buah lain selain toko miliknya) hingga pedagang buah tersebut akhirnya berkata bahwa dia akan membuatkan parsel yang ukurannya kecil untuk saya.

Saat ia sedang mempersiapkan keranjang dan warp plastic, ia menawarkan satu hal yang aneh menurut saya. “Gapapa ‘kan neng, kalo buahnya yang lokal?”. Saya mengernyit heran kemudian mengangguk karena tak ingin berdebat lebih jauh lagi (yang terpenting, saya mendapat parsel yang diinginkan!). Tak lama, pedagang tersebut kemudian memilih buah yang ia maksud dengan ‘buah lokal’, Ya Tuhan! Miris hati saya melihat keadaan buah lokal tersebut! Bagaimana tidak? Buah tersebut terlihat agak kusam dibanding buah yang pedangang itu katakan sebagai ‘buah impor’. Memakannya pun saya kira tak ada yang bernafsu karena tampilannya yang tidak ‘mengundang’. Jadi ini maksudnya bahwa tak ada buah yang cocok dengan parsel ukuran kecil yang saya minta? Hanya karena harganya terlalu murah untuk sepaket buah impor yang lebih ‘wow’ tampilannya dibanding buah lokal? Saya hanya dapat menghela napas dan berpikir sebegitu-tidak-berharganya-kah produk buah lokal Indonesia dibanding dengan produk impor? Itulah sepotong kisah saya melihat betapa mirisnya produk pangan lokal hasil dari tanah Indonesia. Sebenarnya apa pangan lokal itu? Seperti apa contoh lain selain buah yang saya lihat saat di toko buah tersebut? Benarkah pangan lokal tidak dapat bersaing dengan produk impor?

Pangan lokal adalah produk pangan yang telah lama diproduksi, berkembang, dan dikonsumsi di suatu daerah atau suatu kelompok masyarakat lokal tertentu. Umumnya produk pangan lokal diolah dari bahan baku lokal, teknologi lokal, dan pengetahuan lokal pula. Produk pangan lokal biasanya dikembangkan sesuai dengan preferensi konsumen lokal sehingga produk pangan lokal ini berkaitan dengan budaya lokal setempat. Produk ini seringkali menggunakan nama daerah seperti dodol garut, beras cianjur, dan sebagainya (Hariyadi, 2010). Contoh bahan baku dari pangan lokal khas Indonesia adalah jagung, sagu, singkong, ubi jalar, talas, dan lain sebagainya. Jika dikaitkan dengan kasus saya dengan pedagang buah tersebut, maka contoh buah lokal yaitu Apel Malang, Belimbing Blitar, Melon Sidoarjo, Salak Lumajang, Pisang Lumajang, Buah Naga Banyuwangi, Golden Melon Sidorajo, dan Alpukat Pasuruan.

Kondisi pangan lokal di Indonesia saat ini berada dalam tingkat kritis. Bayangkan saja kebutuhan pangan yang semakin meningkat tidak diiringi dengan luasnya ketersediaan lahan yang dijadikan untuk menghasilkan pangan yang dibutuhkan. Keadaan ini membuat bahan pangan yang dibutuhkan tak cukup tersedia sehingga negara akhirnya mengimpor produk impor dari negara lain. Faktor utama yang menyebabkan lahan pertanian semakin menyempit adalah adanya perubahan gaya hidup yang terjadi di masyarakat yaitu perubahan fungsi lahan dan meningkatnya penikmat produk impor.

Pertama, fungsi lahan pertanian banyak berubah menjadi lahan industri. Seperti yang telah diketahui, kerja dalam sektor industri termasuk lebih mudah dan lebih cepat dihasilkan produknya dibanding bekerja di sektor pertanian. Lama menunggu hasil kemudian saat dijual, harganya ternyata lebih rendah dari keinginan para petani saat di pasaran. Keadaan tersebut membuat banyak masyarakat yang akhirnya beralih kerja ke sektor nonpertanian karena dirasa lebih mudah untuk menghasilkan uang dibanding menjadi seorang petani. Coba bayangkan lebih lanjut jika akhirnya tak ada yang menjadi petani, tak ada yang dapat kita makan!

Kedua, peminat produk impor semakin meningkat karena kualitasnya yang lebih baik dibanding produk lokal. Masyarakat dengan ekonomi yang lebih dari cukup tetap menggemari produk impor karena kualitas dan tampilannya lebih bagus dibanding produk lokal. Padahal para petani telah berusaha maksimal untuk memberikan kualitas yang tak kalah baiknya dengan produk impor namun kualitas tersebut tidak sesuai dengan harga yang ada di pasaran. Hal ini membuat para petani merasa tak dihargai usahanya dan akhirnya seperti kasus buah lokal yang saya jabarkan di awal tadi, buah lokal cukup tak terawatt penampilannya sehingga orang enggan membeli buah lokal tersebut.

Jika kedua hal tersebut dibiarkan, tentu akan mempersulit pemerintah dalam menangani krisis pangan yang terjadi di Indonesia. Tentu saja hal ini disebabkan oleh banyaknya para petani (yang merasa tak dihargai) yang akhirnya memilih mundur dari sektor pertanian dan beralih ke sektor nonpertanian. Selanjutnya, berakhir dengan memberikan dampak buruk terhadap tingkat kebutuhan gizi pada masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Berdasarkan hal yang telah dijabarkan di atas, pangan lokal Indonesia harus dilestarikan dengan mengadakan inovasi terhadap pangan tersebut baik dari segi teknologi maupun segi ekonomi. Langkah paling awal yaitu dilakukan saat penduduk masih dalam usia dini yaitu tanamkan kecintaan mereka terhadap produk lokal Indonesia. Misal dengan mengadakan festival produk pangan lokal, lomba yang menarik minat mereka mengani panganan lokal, dan lain sebagainya.

Setelah menanamkan kecintaan produk pangan lokal sejak dini, langkah selanjutnya adalah diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan, contohnya mengganti beras dengan jagung, kentang, atau sumber karbohidrat lainnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar masyarakat tak tergantung dengan beras karena jumlah lahan padi yang hanya sedikit, sekitar 7,2 juta hektar. Program ini tidak hanya diharapkan akan memenuhi kebutuhan pangan lokal yang mengalami krisis tetapi juga akhirnya dapat melakukan kegiatan ekspor ke negara lain.

Langkah terakhir yaitu perkembangan terhadap teknologi pangan yang baru harus segera dilaksanakan. Perkembangan teknologi pangan ini harus sesuai dengan mutu, gizi, preferensi konsumen, dan keamanan makanan tersebut karena pada akhirnya konsumenlah yang akan memilih untuk menggunakan produk lokal atau tidak.

Sumber Pustaka :

makassar.tribunnews.com/2013/03/03/tangkal-serbuan-pangan-impor-perlu-inovasi-pangan-lokal diunduh tanggal 25 Mei 2013

politik.kompasiana.com/2013/05/09/krisis-pangan-sebuah-cita-cita-dan-usaha-penanggulangan-yang-akan-gugur–558301.html diunduh tanggal 25 Mei 2013

beranda.miti.or.id/inovasi-teknologi-pangan-lokal-sebagai-langkah-strategis-mewujudkan-ketahanan-pangan-nasional/ diunduh tanggal 25 Mei 2013

finance.detik.com/read/2013/05/24/131811/2254977/4/miris-petani-buah-lokal-ngaku-sulit-lawan-produk-impor diunduh tanggal 25 Mei 2013

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/03/23/mk2hey-nur-mahmudi-imbau-jangan-tergantung-pada-beras diunduh tanggal 25 Mei 2013

Iklan

Tag:

About viqiyuuri

Just simple person. Hope you enjoy mine! XD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: